www.fierna.com
Jatropha curcas L Plantation For Autonomy in Natural Energy
 
   
   

 

 

 

"FIERNA BIODIESEL”, Siap Bermitra Untuk Kerjasama Operasional Biodiesel / Biofuel dari Tanaman Jarak


Minyak jarak (Jatropha oil) telah terbukti produktif untuk pengganti minyak SOLAR/Minyak Tanah, baik untuk Biosolar maupun Biofuel. Tanaman Jarak Pagar ini sudah banyak dilakukan penelitiaan, uji coba dari seluruh bagian tanaman, dan sudah bisa di komersialkan dengan kuntungan yang menjanjikan ketimbang tanaman lainnya. Dari para penggiat baik oleh individu, lembaga, BUMN maupun Lembaga Swasta, misalnya PTPN XII, RNI, Fierna sendiri, IMA, ITB, UPN, ITS, PERTAMINA dan penggiat lainnya, sudah diperkenalkan sebagai energi alternatif biodiesel/biofuel. Biodiesel tersebut dihasilkan dari minyak yang diperoleh dari biji tanaman jarak yang banyak tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Dan dalam berbagai penelitian tentang minyak yang dihasilkan oleh tanaman ini dalam pembahasan berikut, tampaknya dapat menjadi substitusi bahan bakar diesel, maupun untuk pengganti minyak gas.

 
 
     
 

Kerja Sama Budi Daya, dan Pasca Panen Tanaman Jarak
Tanaman jarak penghasil biodiesel ini berasal dari jenis tanaman jarak pagar yang dalam bahasa Inggris bernama 'Physic Nut' dengan nama species Jatropha curcas. Tanaman ini seringkali salah diidentifikasi dengan tanaman jarak yang dalam bahasa Inggris disebut 'Castor Bean' dengan nama species Ricinus communis.
Fierna Biodiesel yang selama ini telah menggeluti dari hulur hingga hilir dan telah menyiapkan potensi lahan seluas 29.514 Ha untuk bermitra didalam Budidaya Tanaman Jarak Pagar yang tersebar di beberapa daerah antara lain : Jawa Timur, Lampung, Kalimantan Barat, DIY. Yogjakarta, dan membantu pemasaran hasil panen yang diperoleh dari kerja sama ini. Bagi para investor yang tertarik mengembangkan bisnis di bidang Bio-Fuel / Biodisel berbasis jarak pagar maupun para kelompok tani, swasta, dapat melakukan kerjasama sesuai model yang saling menguntungkan. Kami bisa menyiapkan mulai pembibitan, hasil panen, prosesing biji menjadi minyak, membuat penyiapan mesin Mini Scewpress, skala rumah tangga dan industri, pendampingan, pemanfaatan minyak untuk biodiesel/biofuel juga penyiapan alat converter electric agar minyak bisa dipakai oleh mobil berbahan solar.
Uji coba dan implementasi bahan baku nabati dari kopra, klenteng (randu), dan jarak pagar, untuk diproses menjadi minyak biofuel, telah kami uji coba pada mesin mini screwpress yang hasilnya juga dijunakan untuk pengganti minyak solar. Banyak hal yang positif, ekonomis, yang diperoleh ketimbang memakai minyak solar bumi. Lebih dari itu memicu kita bersama dalam pengembangan kapabilitas inovasi, dan pada kondisi ekonomi yang memprihatinkan , kita semua berharap tumbuh semangat pemberdayaan dan kemandirian masyarakat marginal untuk hidup lebih sejahtera.

 

Minyak jarak pada Mesin

Menjelang pertengahan tahun 2004 yang lalu, DaimlerChrysler, salah satu perusahaan otomotif terkemuka, berhasil mengujicobakan penggunaan bahan bakar BTL (Biomass to Liquid) pertama di dunia pada mobil Mercedes-Benz seri C (Mercedes-Benz C 220, red.), menempuh jarak 5.900 km dalan kondisi lingkungan yang ekstrim di India (India Daily, 19/7/2004). Bahan bakar tersebut kemudian diberi nama dagang SunDiesel, diperoleh dari minyak jarak dan merupakan salah satu program DaimlerChrysler dalam mengembangkan Biodiesel.
Manfaat minyak jarak sebagai substitusi bahan bakar sebetulnya telah lama diketahui. Misalnya melalui review yang dipublikasikan oleh Gubitz dkk. (1999) pada jurnal Bioresource Technology edisi 67, disebutkan bahwa tahun 1997 grupnya di Austria, telah mempublikasikan hasil uji adaptasi minyak jarak pada mesin diesel standar. Di dalam review tersebut juga disebutkan bahwa jauh sebelum pengujian tersebut dilaksanakan, pada tahun 1982, peneliti dari Jepang juga telah memperoleh hasil memuaskan dalam menguji performansi mesin dalam menggunakan minyak jarak di Thailand.

 

Pengembangan Minyak jarak di Indonesia
Pengembangan minyak dari tanaman jarak melalui pendekatan ilmiah di Indonesia, dipelopori oleh Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 1997 dengan fokus ektraksi minyak dari tanaman jarak. Sejak tahun 2004 yang lalu, penelitian ini mendapat dukungan dari Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dari Jepang (Kompas, 12/5/2005).
Menghadapi krisis kelangkaan BBM dan kenaikan harga BBM di Indonesia, Pemerintah mulai menggali sumber-sumber energi alternatif. Minyak jarak ini pun mulai mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah. Setelah dirintis oleh ITB kemudian diikuti oleh IPB, dan selanjutnya diikuti oleh lembaga pemerintah pusat yaitu BPPT, dan oleh pemerintah daerah seperti Pemprov. Nusa Tenggara Timur, Pemprov. Nusa Tenggara Barat, Pemkab. Purwakarta dan Pemkab. Indramayu, serta oleh BUMN seperti PT. Pertamina, PT. PLN dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), semua saling bekerja sama untuk pengembangan minyak jarak sebagai bahan bakar minyak alternatif ini. Tidak ketinggalan Sekolah Menengah Kejuruan bidang pertanian pun akan mengikuti pengembangan minyak jarak ini, untuk bahan bakar minyak alternatif.


Peluang / hambatan
Dari prediksi yang kita ikuti dari kebijakan pemerintah, berbagai peluang emas terbuka lebar, karena alasan mendasar, 18–20 tahun kedepan akan terjadi kelangkaan minyak bumi, kebutuhan konsumsi BBM 2007 semakin membengkak, sedang persedian BBM fosil semakin berkurang, harga minyak internasional dipasaran cenderung menaik, sementara teman sejawat dari negara tetangga sudah lama memanfatkan biodiesel ini secara komersial, kita baru berbuat dan penyediaan bahan baku alternatif baru dikembangkan sehingga pasar sangat kondusif. Ada beberapa hambatan, antara lain belum tercipta dengan baik komitmen dan konsistensi untuk percepatan penyiapan bahan baku, mengingat semangat kemandirian belum sepenuhnya ada pada sebagian besar masyarakat, yah…, kita kan baru berbuat, tapi lumayan ada niat positif anak bangsa ber - implementasi dalam BBM alternatif.
Berkat kebijakan Presiden SBY diawal tahun 2006 megeluarkan payung hukum berupa Inpres 1/2006 dan Perpres 5 tahun 2006, maka energi alternatif yang kita lakukan bersama ada satu optimisme peluang pasar minyak jarak ini cukup terbuka. Munculnya pernyataan Direktur Utama Pertamina yang menyebutkan bahwa Pertamina siap menampung minyak jarak dari masyarakat untuk diproses lebih lanjut sebagai Biodiesel (www.pertamina.com , 18/8/2005). Bahkan Jepang yang terikat komitmen Protokol Kyoto bersiap-siap membeli produk energi alternatif dari minyak jarak ini (Republika, 18/5/2005). Berbagai investor asing sudah berkeinginan mencari partner untuk berinvestasi dalam pengembangan biodiesel / biuofuel. Kapan lagi ,kalau tidak berbuat, tidak ada untaian kalimat yang terlambat apabila segera berbuat dan melakukan demi kepentingan anak bangsa yang lagi butuh pengembangan inovasi dan teknologi yang moderate ini.

>>> On Top >>>

 

About Us | Site Map | Privacy Policy | Contact Us | ©2006 by Ans

email ke admin Home